Hujan Saat Alek Suku Jambak: Mitos atau Fakta?
- Muthyarana Darosha
- May 6, 2021
- 3 min read

Minangkabau, bila berbicara tentangnya banyak hal yang terbayang. Bayangan teduh dan tenangnya kampung halaman, perut yang lapar saat membayangkan masakan Minangkabau yang menggugah selera, atau seketika pula rumah gadang yang khas dengan gonjongnya bersemai dalam ingatan. Namun ada hal lain yang juga membuat kesan dan selalu terbayang, yaitu, suku-suku di Minangkabau.
Bicara soal suku, ini merupakan pertanyaan basa-basi yang sering saya temui saat berkenalan. ‘Suku apo, tu?’ Ya, pertanyaan tentang suku. Masyarakat Minangkabau memang terbagi lagi atas beberapa suku, seperti Koto, Chaniago, Jambak, Piliang, Sikumbang, dan masih banyak clan lainnya. Jika saya dilontarkan pertanyaan sebelumnya, diturunkan mengikuti garis keturunan Ibu yang diterapkan Minangkabau, tentulah saya akan menjawab ‘ Suku Jambak.’
Tak ada yang salah dari suku Jambak. Tetapi, ada satu hal yang selalu mengganggu pikiran penulis, yakni kalimat ‘Ondeh, berarti hujan pas baralek bisuak ma.’ Memang, suku Jambak terkenal dengan salah satu mitosnya yaitu hujan disaat mereka mengadakan pesta atau perayaan, yang biasa disebut alek. Sulit diterima dengan logika, tetapi ungkapan ini benar adanya. Keluarga saya yang bersuku Jambak mengalami hal ini, hujan mengguyur saat alek. Dikuatkan dengan cerita hujan lebat saat Bundo Kanduang suku Jambak melakukan alek di Pasaman. Semakin kuat dan berkembanglah mitos ini.
Memang, jika bicara adat kita akan menemukan hal-hal yang diluar logika. Hal-hal yang tidak dapat dibuktikan secara ilmiah, namun terjadi. Pada beberapa kesempatan saya pernah berdiskusi mengenai mitos ini kepada pemuka adat suku Jambak, atau dalam Minangkabau disebut niniak mamak. Juga pada orang yang paham dengan adat dan budaya Minangkabau. Salah satunya adalah Ajo Enek, pendamping Mak Katik yang merupakan seorang Budayawan Minangkabau.
Salah satu pepatah yang sering cukup familiar di kalangan masyarakat Minangkabau adalah ‘lautan sati, rantau batuah.’ Konon katanya, Minangkabau adalah tanah pasumpahan, tanah yang penuh dengan sumpah. Nenek moyang Minangkabau suka melontarkan sumpah jika melakukan kesalahan-kesalahan. Sumpah ini akan diturunkan pada seluruh anak-cucu dalam keturunannya. Pada masa kini sumpah tersebut berupa pantangan, atau yang lebih akrab disebut sebagai pamali. Pantangan-pantangan inilah yang berkembang menjadi mitos yang sulit diterima akal sehat, namun hal tersebut terjadi. Dan salah satunya adalah mitos suku Jambak tadi, hujan ketika ada alek.
Ajo Enek berkata, dari sepuluh alek suku Jambak, tujuh diantaranya terjadi hujan. Hal ini tidak bisa dikategorikan hanya sekedar kebetulan belaka, menimbang frekuensi ‘tujuh’ merupakan angka yang cukup besar, melebihi setengah dari sepuluh.
Setelah digali lagi, ternyata mitos hujan saat alek suku Jambak ini berkaitan dengan mitos lainnya. Di Minangkabau mempercayai konsep jika seseorang meninggal dan arwahnya tidak diterima di alam barzakh, maka ia akan kembali ke dunia dan menjelma menjadi binatang. Pun begitu dengan nenek moyang Minangkabau, ada yang menjadi harimau, buaya, ular, dan binatang lainnya. Suku Jambak, mempercayai bahwa nenek moyang mereka menjelma sebagai buayo putiah (Indonesia: buaya putih).
Lantas, apa hubungannya dengan mitos hujan tadi? Hujan tersebut merupakan pertanda alam dari kedatangan nenek moyang suku Jambak. Sang Buayo Putiah datang untuk melihat anak- cucunya yang tengah mengadakan suatu perhelatan.
Dari penjelasan tersebut, pastinya akan timbul pertanyaan lain. ‘Berarti nenek moyang orang Minangkabau tidak diterima di alam barzakh, dong?’ Wallahualam. Bicara mengenai budaya dan adat, akan selalu berkaitan dengan mitos. Tidak hanya di Minangkabau, pun pada suku Jawa, Batak, Sunda, dan suku-suku lainnya. Tiap adat dan budaya pasti memiliki hal-hal unik, dan tidak dapat diterima logika.
Tidak dapat ditarik kesimpulan terkait mitos hujan pada alek suku Jambak tersebut, dikarenakan tidak ada keterkaitan antara fenomena hujan dengan orang yang tengah melakukan pesta. Hujan merupakan fenomena alam, dan dapat terjadi diluar kendali manusia. Namun disisi adat-budayanya, hal yang berkaitan dengan mitos, dapat diterima, dan benar-benar terjadi ditengah kehidupan masyarakat Minangkabau, khususnya suku Jambak sendiri.
Adat dan budaya memang banyak memiliki ranah yang masih abu-abu. Banyak yang tidak dapat kita saksikan dan buktikan, namun pada realitasnya benar-benar terjadi. Dilematis ini akan selalu ada. Jika ditanya soal mitos hujan saat Suku Jambak mengadakan alek, hal tersebut benar-benar belum dapat ditarik menjadi sebuah kesimpulan, seperti yang sebelumnya dipaparkan. Tapi yang terpenting bagi sebuah alek bukan dinilai dari hujan atau tidak hujannya? Barangkai, hujan atau tidaknya saat perhelatan berlangsung bukan esensi yang utama dalam pelaksanaan alek.
Tulisan ini dimuat pada Cerano.id pada Oktober 2020, link: https://cerano.id/hujan-saat-alek-suku-jambak-mitos-atau-fakta/#:~:text=Dan%20salah%20satunya%20adalah%20mitos,tadi%2C%20hujan%20ketika%20ada%20alek.&text=Hujan%20tersebut%20merupakan%20pertanda%20alam,yang%20tengah%20mengadakan%20suatu%20perhelatan.
Comments