top of page

Masih Pandemi, Hati-hati Dompet Makin Tipis!

  • Writer: Muthyarana Darosha
    Muthyarana Darosha
  • May 7, 2021
  • 4 min read


AYOBANDUNG.COM -- Belanja online mungkin sudah menjadi hal wajar dalam kehidupan kita. Sejuta kemudahan serta beragamnya potongan harga yang ditawarkan membuat perkembangan belanja online semakin meningkat dari tahun ke tahun. Terlebih tren belanja online ternyata mendapat respons positif walaupun di tengah kondisi pandemi.


Walaupun Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia per November 2020, berada pada kuartal III-2020, minus 3,49 persen. Artinya, Indonesia masuk pada jurang resesi ekonomi. Ternyata pandemi malah meningkatkan tren belanja online masyarakat Indonesia.


Hal ini dikuatkan dengan banyaknya masyarakat beralih dari yang semulanya belanja offline kini menjadi belanja online. Laporan Criteo, sebuah perusahaan teknologi periklanan, terdapat 49% konsumen belanja online Indonesia mengunduh aplikasi belanja online untuk pertama kalinya. Selain itu, e-commerce juga mengalami pertumbuhan yang cukup signifikan di Indonesia. Per 2020, pertumbuhan tersebut mencapai angka 54%, sekitar Rp454 triliun.


Antusiasme ini juga tergambar dengan pencapaian salah satu e-commerce pada 12.12 beberapa waktu lalu. Walaupun berlangsung di tengah kondisi pandemi, e-commerce yang identik dengan warna oranye tersebut mengatakan 12 juta produk terjual hanya dalam waktu 24 menit. Pada satu jam pertama e-commerce tersebut sudah mampu menggaet sebanyak 3 juta pengunjung. Bukan angka yang kecil, bukan? Bahkan menjadi suatu yang mustahil jika angka tersebut diterapkan pada sistem belanja offline.


Tren belanja online sebetulnya sudah mulai berkembang sebelum pandemi merebak di Indonesia. Perkembangan tersebut melatarbelakangi munculnya Hari Belanja Nasional (Harbolnas). Harbolnas jatuh pada tangga 12 bulan Desember setiap tahunnya. Awalnya Harbolnas diinisiasi oleh beberapa e-commerce besar Indonesia pada tahun 2012. Tujuannya untuk mendorong dan memberikan edukasi pada masyarakat Indonesia tentang mudahnya belanja online. Kala itu, hal tersebut direspons positif, sehingga agenda yang terkenal dengan julukan ‘12.12’ terus berlangsung setiap tahunnya.


Harbolnas terinspirasi dari kegiatan belanja online di beberapa negara besar seperti Amerika, Jepang, China, dan lainnya. Beberapa platform belanja online memberikan diskon besar-besaran pada waktu tertentu untuk menggaet pelanggan. Selain itu, Harbolnas juga terinspirasi dari Hari Jomblo yang dirayakan setiap 11 November. Kini, hari tersebut menjadi ajang belanja terbesar di China dan seluruh dunia.


Peningkatan belanja online berbanding lurus dengan berbagai cara dilakukan berbagai e-commerce untuk memacu pelanggannya agar terus berbelanja. Salah satu cara yang cukup manjur adalah dengan memberikan promo berupa potongan harga, atau voucer yang dapat digunakan untuk mengklaim pemotongan ongkir (ongkos kirim).


Bahkan sekarang, diskon besar-besaran tidak hanya bisa kita temukan di penghujung tahun, saat Harbolnas 12.12 saja. Kini, seakan-akan Harbolnas dilangsungkan setiap bulan. Beberapa e-commerce mengaplikasikan diskon-diskon serupa pada tanggal ganda setiap bulannya. Seperti 1.1 pada bulan Januari, 2.2 pada bulan Februari, hingga 11.11 pada bulan November, sebulan menjelang perayaan puncak Harbolnas. Tentunya ini dilakukan untuk tujuan yang sama, yakni menarik pelanggan untuk tetap berbelanja online.


Dikutip dari Kompas.com, Account Strategist Criteo, Ikrar Pradana penggunaan angka ganda ini bukan tanpa alasan. E-commerce melihat tanggal ganda tersebut sebagai angka yang bagus. Seiring berjalannya waktu, tanggal ganda dijadikan sebagai tanggal berbelanja, dan puncaknya pada Harbolnas 12.12.

Tentunya hasil promo tanggal ganda ini menjadi suatu keuntungan bagi penjual. Namun, bagaimana jika dikaji dari sisi pelanggan?


Promo atau potongan harga yang ditawarkan tentunya menjadi penarik tersendiri bagi pelanggan online. Ini menjadi suatu keuntungan pula bagi pelanggan karena potongan harga akan mengurangi biaya yang akan dikeluarkan. Produk diskon tentunya biasanya menawarkan harga yang lebih murah ketimbang harga normal. Namun, berbagai promo dan diskon tersebut sekaligus bisa menjadi jebakan bagi pelanggan yang tidak bisa menahan nafsunya belanjanya. Sehingga tanggal ganda bukan hanya sebagai hari berbelanja, tetapi sekaligus ajang pemborosan.


Belakangan, banyak pelanggan yang memanfaatkan voucer potongan ongkir untuk berbelanja barang ‘receh’ yang sebetulnya tidak terlalu bermanfaat. Misal, membeli barang hanya karena visual produk yang lucu. Syukur-syukur barang tersebut ada fungsinya, namun bagaimana jika barang tersebut hanya benar-benar sebatas lucu dan ujung-ujungnya terlupakan karena kurang bermanfaat? Ini bukan lagi soal belanja, tapi sudah termasuk perilaku mubazir.

Melihat penanganan pandemi di Indonesia yang belum begitu menggembirakan, sangat besar kemungkinan kondisi kedepannya tidak jauh berubah.


Dari itu, sudah semestinya tiap pelanggan membangun pagar diri masing-masing untuk menghadapi godaan berbagai promo belanja online yang tengah jadi tren ini. Terlebih ditengah kondisi pandemi begini, banyak hal yang mendorong kita untuk terus mengecek platform e-commerce. Belum lagi racun belanja yang berseliweran di berbagai timeline sosial media. Alih-alih memanjakan diri, menuruti keinginan hati dengan berbelanja online dengan diskon yang begitu menggiurkan, malah yang ada dompet yang makin bokek.

Untuk mengantisipasi ke-bokek-an itu, ada beberapa tips yang bisa diterapkan.


Pertama, buat daftar kebutuhan. Data apa saja barang-barang yang benar-benar dibutuhkan. Bukan barang yang sekadar hanya untuk memuaskan keinginan, seperti halnya barang-barang lucu tadi. Daftar ini akan membantu jika kamu terjebak dilema dalam memutuskan untuk membeli atau tidaknya suatu barang. Jika barang tersebut ada dalam daftarmu, plus ada diskon…. Bagus! Kamu boleh membelinya karena akan mengurangi pengeluaran.


Kedua, merencanakan anggaran. Hal ini sangat penting untuk mengatur seberapa besar uang yang mestinya dihabiskan dalam belanja online. Kalau sudah sampai limitnya, ya tidak boleh belanja lagi, walaupun diskon yang ditawarkan sampai 99%. Lain cerita bila barang tersebut memang dibutuhkan dan mendesak. Ingat ya, belanja itu karena kebutuhan bukan karena diskon!


Ketiga, harus bijak dalam berbelanja. Sebetulnya ini menjadi poin yang terpenting. Jangan mudah terbujuk rayuan menggiur diskon-diskon. Sebelum memutuskan untuk membeli, kamu harus memikirkannya dengan matang. Apakah barang tersebut merupakan kebutuhanmu? Lalu, apakah anggaran untuk belanja online masih ada atau sudah mencapai limit?


Selain itu, teliti dan cermat juga harus diutamakan. Alih-alih menghemat pengeluaran karena diskon, tapi ternyata kamu hanya mendapat diskon palsu. Alias harga normal yang tertera bukan harga asli, tapi sudah dinaikkan. Jadi walaupun katanya diskon, sebetulnya barang tersebut dijual dengan normal, tapi kamunya saja yang tertipu!


Comments


Post: Blog2_Post

©2021 by Muthyarana Darosha. Proudly created with Wix.com

bottom of page