top of page

Jasa Titip Bahan Dapur Menjamur, Bukti UMKM Perempuan Siap Tempur

  • Writer: Muthyarana Darosha
    Muthyarana Darosha
  • May 7, 2021
  • 5 min read


Pandemi Covid-19 membuat banyak orang harus putar otak untuk bertahan hidup, terlebih dalam segi ekonomi. Walaupun tren belanja online meningkat, tak sedikit usaha kecil terpaksa berhenti karena daya beli yang menurun. Hal ini diungkapkan dalam laporan Pusat Penelitian Ekonomi (P2E) Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia yang menyatakan 94,7 persen penjualan UMKM (Usaha Mikro, Kecil dan Menengah) mengalami penurunan selama pandemi.


Padahal, sektor UMKM apalagi bisnis industri rumahan menyumbang peran yang cukup besar bagi perekonomian Indonesia. Di tahun 2018 saja, Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah mencatat lebih dari 64 juta unit UMKM berkontribusi sebesar 97 persen terhadap total tenaga kerja dan 60 persen terhadap PDB nasional.


Life must go on. Banyak orang mencoba berbagai peruntungan. Sebagian gagal, namun tetap ada yang berhasil memenangkan peruntungan tersebut. Salah satunya ialah usaha yang dirintis oleh Susi.


Untuk menopang perekonomian keluarga, perempuan lulusan diploma Jaminan Mutu Pangan Institut Pertanian Bogor (IPB) ini harus pulang ke kampung halaman untuk meneruskan usaha warung sayuran yang sebelumnya dikelola sang ayah. Ditambah pekerjaan sang suami yang tidak tetap, membuat Susi harus mencari strategi agar usahanya tidak tutup karena pandemi.


Tak jauh berbeda dari usaha lainnya, selama pandemi warung sayuran milik Susi mengalami kemunduran. Tak habis akal, ia mencoba memanfaatkan teknologi komunikasi dengan membuka usaha jasa titip (jastip).


Usaha jastip mungkin sudah terdengar biasa, namun jastip yang ditawarkan perempuan asal Pekanbaru ini cukup berbeda. Bukan jastip produk branded ataupun barang-barang import, Susi berfokus pada jastip kebutuhan dapur yang dibutuhkan oleh seluruh ibu rumah tangga.


“Karena semua orang membatasi diri, jadi terpikirkan usaha jastip ini,” tutur Susi.


Bermodalkan grup WhatsApp, tak ada yang menyangka usaha jasa titip yang sudah berjalan dua tahun ini justru meningkat di tengah krisis ekonomi akibat pandemi yang terjadi. Dibantu sang ibu dan anak perempuannya, usaha ini mendapat respon yang baik dari para pelanggan.


Selepas salat subuh Susi mulai membuka salam di grup ibu-ibu komplek buatannya. Melalui grup tersebut, pelanggan dapat mengirimkan daftar barang-barang yang hendak dibelikan di pasar. Ibu satu anak ini mencatat semua pesanan dan mulai berangkat pagi hari untuk belanja kebutuhan para pelanggannya.


“Biasanya subuh sudah mulai masuk orderan melalui WhatsApp. Sekitar jam setengah tujuh saya ke pasar dan membelikan barang-barang yang sudah dipesan via chat. Selama belanja tetap online, jadi tetap bisa terima orderan yang baru masuk,” jelas Susi.


Tak sekadar membelikan barang-barang yang diminta oleh pelanggan, Susi memiliki standar kerjanya tersendiri. Menurutnya, hal yang paling utama ialah penerapan protokol kesehatan, baik selama ia membeli barang-barang di pasar mau pun menjajakan barang dagangan di warung miliknya.


Aspek higienis produk menjadi perhatian khusus Susi, terlebih di masa pandemi. Berbekal ilmu yang didapatkannya selama menempuh pendidikan tinggi, kualitas produk tentunya menjadi aspek yang paling penting. Jika kualitas produk yang tersedia di pasar tidak memenuhi standar, Susi tidak ragu untuk membatalkan pesanan pelanggannya.


“Walaupun barangnya ada tapi gak layak, ya gak dibeli. Tentunya sudah dikabari dulu pada pelanggan. Saya juga lulusan diploma jaminan mutu pangan, jadi paham betul kondisi produk yang akan saya jual,” tegasnya.


Setelah barang selesai dibeli, pelanggan dapat mengambil pesanan di warung miliknya. Dibantu sang suami, ia juga menyediakan layanan antar ke rumah tanpa ongkos kirim untuk menarik pelanggan sekaligus meningkatkan pendapatan.


“Untuk daerah Beringin Indah layanan antar ke rumahnya gratis ongkir, buat naikin omzet,” tuturnya.


Susi juga menerima pembayaran via transfer bank guna memudahkan pelanggan dalam proses pembayaran. Selain itu, tentunya ini diterapkan untuk meminimalisir kontak dan penyebaran virus melalui benda-benda sekitar, seperti uang. Tak ayal, usaha yang dirintis Susi mengalami peningkatan selama pandemi.


“Alhamdulillah, semakin meningkat selama pandemi. (Warung) jadi satu-satunya sumber pemasukan, 95 persen biaya untuk hidup berasal dari kedai ini,” ujar Susi kala diajak berbincang via video conference.


Usaha konvensional yang memanfaatkan media digital juga dilakoni oleh Rizky Ayu, di Malang. Berbeda dengan Susi yang memanfaatkan WhatsApp, Ibu satu anak ini membuka usaha jastip kebutuhan dapur melalui Instagram @mlijofresh_malang. Bermodalkan dana pribadi dan menggandeng beberapa supplier, usaha ini ia rintis mulai 26 Maret 2020, saat pandemi melanda Indonesia.


“Ekspektasi saya orang-orang takut belanja ke luar rumah apalagi di kerumunan. Jadi saya punya ide untuk buka usaha jastip online, untuk membantu orang-orang memenuhi kebutuhan rumah tanpa harus keluar rumah,” ujar Rizky saat dihubungi via WhatsApp.


Dibantu ibu dan sang suami, Rizky berbagi peran dalam menjalankan usaha jastip ini. Menurutnya, usaha ini sangat membantu perekonomian keluarga terutama pasca pekerjaan sang suami yang mengalami penurunan drastis.


“Suami saya dulunya ngojek online. Tapi waktu ada pembatasan sosial kan jadi gak usaha. Akhirnya (suami) bantu untuk antarkan pesanan. Ibu saya juga bantu untuk belanja ke pasar, saya yang kelola Instagram dan orderan,” tuturnya.


Bisnis Potensial


Merespon fenomena ini, Irsyad Kamal, ahli ekonomi Universitas Padjadjaran yang telah lama berkecimpung sebagai konsultan pengembang UMKM dan startup, menyebut bahwa model bisnis jastip seperti yang dikelola oleh Susi dan Rizky adalah model bisnis yang sangat potensial.


“Selama pandemi, selama masih ada potensi terinfeksi Covid-19 walaupun sudah divaksin, ditambah dengan adanya varian virus baru, model bisnis seperti ini bisa berjalan, bahkan dikembangkan,” Jelas laki-laki yang akrab disapa Kamal ini.


Usaha jastip ini hadir menjadi salah satu solusi agar masyarakat terhindar dari Covid-19 karena dapat meminimalisir kerumunan.


“Agar terhindar (dari virus), kita harus menerapkan protokol kesehatan, salah satunya dengan menghindari kerumunan. Usaha jastip ini menjadi salah satu solusinya,” tambah Kamal.


Potensi Perempuan


Penelitian yang dilakukan tahun 2020 oleh Program Pembangunan Perserikatan Bangsa-Bangsa/United Nations Development Programme (UNDP) dan Lembaga Penelitian Ekonomi dan Masyarakat (LPEM) Universitas Indonesia mengungkap bahwa usaha yang dikelola oleh perempuan lebih resiliens terhadap perubahan (85.1%) dibandingkan dengan usaha yang dikelola laki-laki (79.7%).


Laki-laki lulusan program magister Sekolah Bisnis Manajemen ITB ini menjelaskan, bahwa fenomena serupa sudah pernah ditemukan dalam penelitian Muhammad Yunus, pemenang hadiah Nobel Perdamaian tahun 2006.


“Hal yang bisa saya ambil dari penelitian Muhammad Yunus adalah perempuan lebih bertanggung jawab, lebih memikirkan urusan keluarga, juga memiliki rasa ingin membayar utang lebih tinggi dari laki-laki,” paparnya.


Kamal menambahkan, di era digitalisasi kemampuan perempuan untuk beradaptasi dengan teknologi lebih tinggi ketimbang laki-laki. Di samping itu, perempuan cenderung lebih kreatif, memiliki tingkat keingintahuan dan mau belajar yang tinggi, sehingga dapat menghasilkan inovasi yang menarik bagi konsumen.


Potensi Pengembangan


Merespon inovasi penggunaan elemen digital dalam menjalankan usaha jastip potensial yang dijalankan Susi dan Rizky, Kamal membeberkan hal-hal yang perlu diperhatikan agar model bisnis tersebut dapat lebih berkembang. Empat hal yang menurutnya perlu ditekankan meliputi hard infrastructure, hardware, software, dan brainware.


Kamal menjelaskan hal yang paling utama adalah aspek hard infrastructure berupa koneksi saluran internet. Peningkatan hard infrastructure nantinya harus berbanding lurus dengan hardware yang digunakan dalam menjalankan usaha.

Tak cukup sampai di situ, aspek software juga harus ditingkatkan. Peningkatan ini berupa pengembangan skill dalam menggunakan berbagai aplikasi dan platform guna mengembangkan usaha.


Terakhir, yaitu peningkatan dalam aspek brainware. Aspek brainware berkaitan dengan kemauan individu untuk belajar serta meningkatkan kapasitas diri.

Willingness to learn menjadi poin penting. Karena kemampuan mengikuti kemauan, semuanya dapat dipelajari,” tegas Kamal.


Pandemi telah memaksa pelaku usaha untuk terus berinovasi menghadapi kondisi ini, seperti yang dilakukan oleh Susi dan Rizky. Meskipun nampak sederhana, kemampuan perempuan dalam mengembangkan usaha di tengah pandemi patut diacungi jempol. Salah satunya usaha jasa titip bahan dapur yang awalnya sederhana saat dikombinasikan dengan teknologi digital menjadikannya lebih potensial di masa pandemi.


Kondisi ini menunjukan perekonomian Indonesia masih memiliki harapan untuk pulih selama ada keinginan masyarakat untuk maju dan belajar. Negara harus hadir dalam situasi ini dalam bentuk sokongan dari pemerintah, baik berupa bantuan tepat guna mau pun pelatihan.


“Bantuan sosial (dari pemerintah) menjadi hal yang paling penting dan keharusan. Namun, yang paling penting lagi adalah seperti apa bentuk bantuan tersebut. Pemerintah seharusnya dapat menjustifikasi bentuk bantuan tersebut agar tepat guna,” tegas Kamal sebelum menutup perbincangan.


Tulisan ini merupakan hasil kolaborasi dengan Rita Puspita dan Ainun Nabila. Meraih Juara I Lomba Journalight Pekan Komunikasi Universitas Indonesia 2021.


Comments


Post: Blog2_Post

©2021 by Muthyarana Darosha. Proudly created with Wix.com

bottom of page