Social Distancing dan Dilematika Mahasiswa Rantau
- Muthyarana Darosha
- May 6, 2021
- 3 min read

AYOBANDUNG.COM -- Virus corona kian merebak beberapa waktu belakangan. Kurva Virus Corona-pun memperlihatkan penambahan setiap harinya. Melansir dari katadata.co.id, per 19 Maret 2020, tercatat 309 pasien yang positif Corona di Indonesia. Presentase kematian atau fatality rate Corona di Indonesia mencapai angka 8,4%.
Untuk daerah Jawa Barat, data dari laman resmi pemerintah Jabar terkait Virus Corona, per 20 Maret 2020, tercatat 26 orang positif, 818 Orang Dalam Pantauan (ODP), dan 83 Pasien dalam Pengawasan (PDP).
Berbagai hal dilakukan untuk meminimalisasi penyebaran virus ini. Salah satu yang tengah digadang-gadang adalah gerakan #dirumahaja, yaitu dengan menghindari bertemu dengan banyak orang dan berdiam diri di rumah. Social distancing ini dinilai efektif untuk mengurangi penularan virus.
Kebijakan social distancing ini berdampak pada berbagai aspek. Salah satunya dalam bidang pendidikan. Berbagai universitas mengubah metode belajar yang semula secara tatap muka menjadi daring atau online. Kebijakan ini-pun merambat dan mempengaruhi aktivitas kampus lainnya, seperti kegiatan organisasi dan kegiatan kemahasiswaan lainnya.
“Untuk saat ini, saya dan rekan-rekan memilih untuk menunda beberapa program kerja yang melibatkan banyak massa. Pelayanan di fakultas juga sudah mulai dilakukan secara daring. Hal ini mengacu pada surat edaran rektor,” jelas Ivan Sebastian, Ketua BEM Fakultas Teknik Geologi (FTG) Unpad, saat saya temui Jumat (20/3/2020).
Kebijakan tersebut tentunya juga membuat mahasiswa berbondong-bondong untuk pulang. Pulang memang menjadi hal yang dinantikan bagi mahasiswa. Selain dikarenakan kuliah yang bisa dilaksanakan tanpa tatap muka, selain itu rasa aman dan nyaman di rumah menjadi alasan terkuat bagi beberapa mahasiswa untuk pulang.
Hal ini dibenarkan oleh Lovenila, salah satu mahasiswa Universitas Padjadjaran saat berbincang dengannya melalui via telepon.
“Karena saya merasa aman di aja kalau di rumah. Selain itu, jika sakit ada yang ngurusin. Meskipun saya pulang, saya tetap melaksanakan social distancing. Pulang bukan berarti lalai,” ujar Lovenila.
Berbeda dengan mahasiswa rantau (luar pulau Jawa) yang masih dilema menghadapi situasi ini. Terutama mahasiswa rantau Unpad. Ketidakpastian informasi membuat mereka maju-mundur dalam menetapkan keputusan. Dari pernyataan Lenggo, salah satu mahasiswa Universitas Padjadjaran, bahwa surat edaran resmi dari rektor perkuliahan daring berlaku hingga 27 Maret 2020. Namun, belakangan beredar informasi bahwa perkuliahan daring diperpanjang hingga 29 Mei 2020.
“Saya ragu untuk pulang, karena belum ada kejelasan informasi,” keluh Lenggo saat saya temui di indekos milikinya, Jumat (20/3/2020).
Berbeda dengan Ivan, selain belum ada konfirmasi dari pihak terkait mengenai jadwal perkuliahan daring, tanggung jawab yang diembannya membuat ia lebih memilih tetap di Jatinangor.
“Karena masih ada tanggug jawab yang saya emban, jadi saya memutuskan untuk menyelesaikannya terlebih dahulu. Tapi sebagai mahasiswa rantau, jujur saya juga ingin pulang,” ujarnya.
Selain dua alasan sebelumnya, Ivan memiliki keraguan lain. Perjalanan yang akan ditempuhnya menuju kampung halaman menurutnya cukup berisiko. Bisa jadi diperjalanan ia terpapar virus corona, dan malah menjadi penular di tengah-tengah keluarganya. Namun jika tidak pulang, ia mengaku takut jika nantinya kebijakan lockdown diberlakukan hingga masa darurat yang ditetapkan BNPB, hingga 29 Mei 2020. Dalam artian tentunya ia tidak bisa bertemu keluarganya, terutama saat lebaran, jika kebijakan tersebut benar dilakukan nantinya.
“Mungkin saya lebih menunggu waktu yang tepat saja, sih, untuk pulang,” tambah Ivan.
Saya telah berbincang dengan salah satu perawat rumah sakit swasta di Jakarta melalui via telepon, untuk mengkaji hal ini dari sisi medis Beliau mengatakan akan lebih baik jika mahasiswa rantau (luar pulau Jawa) untuk tetap berada di indekosnya. Pulang ke kampung halaman menurutnya memiliki risiko yang lebih tinggi.
Hal ini menimbang saat diperjalanan kita tidak tau akan bertemu siapa, dan menyentuh apa saja. Bisa jadi pula kita tersebut sudah terinfeksi virus, lalu jadi menularkannya pada orang-orang di rumah. Namun, hal ini juga tidak menjadi standar bahwa mahasiswa rantau tidak boleh pulang sama sekali.
“Selama bisa menjamin diri dan merasa safety ya, tidak apa-apa. Toh, saya juga tau bagaimana rasanya jadi anak kos,” ujarnya, menutup perbincangan kala itu.
Tulisan ini tangan di ayobandung.com pada Maret 2020 dengan Link: https://ayobandung.com/read/2020/03/21/83376/social-distancing-dan-dilematika-mahasiswa-rantau



Comments