top of page

Mengintip Ramadan-Pandemi di Negeri Sakura

  • Writer: Muthyarana Darosha
    Muthyarana Darosha
  • May 6, 2021
  • 3 min read



Ramadan sudah jalan empat hari. Banyak hal berbeda dari bulan-bulan sebelumnya. Karena, Ramadhan kali ini datang ditengah pandemi yang melanda. Hampir seluruh dunia merasakan imbasnya.


Terkonfirmasi dari laman covid19.go.id, per 27 April 2020 jumlah pasien positif terinfeksi Covid-19 di dunia tercatat sekitar 2,8 juta jiwa. Kasus ini merambah hingga 213 negara, dengan angka kematian 196 ribu lebih korban meninggal dunia.


Jepang termasuk salah satu negara awalan yang terjangkit Covid-19. Namun, perkembangannya terlihat tidak sesignifikan yang diprediksikan. Kurva penularan Covid-19 di Jepang juga lebih landai dari perkiraan sebelumnya. Hal ini terjadi karena bentuk upaya penanggulangan diterapkan secara tegas dan tepat oleh pemerintah dan masarakat Jepang. Melalui portal berita nhk.or.jp, per tanggal 27 April 2020, penambahan kasus positif Covid-19 di Jepang tidak mencapai angka 100.


Walaupun begitu, pemerintah Jepang masih menganjurkan masyarakatnya untuk tetap di rumah saja. Dilansir melalui NHK, hingga Minggu (26/4), jumlah orang bepergian di daerah Osaka turun menjadi 87,8 persen. Hal tersebut dibenarkan oleh Agung Pratama, salah seorang berkebangsaan Indonesia, yang tengah menempuh pendidikan di Ehle Gakuen, Osaka, Jepang.


“Osaka masih dijaga ketat selama masa Covid-19 ini. Seluruh masyarakat dianjurkan untuk tetap di rumah,” kata Agung melalu pesan WhatsApp-nya, pada Senin (27/4).


Penjagaan ketat daerah Osaka karena Covid-19 tentu sangat berpengaruh pada aktivitas Agung sehari-hari. Biasanya, Agung mengisi hari-harinya dengan berkuliah, dan bekerja paruh waktu di sebuah resto. Namun, karena Covid-19 tengah mewabah, kegiatan belajar ditiadakan, dan Agung hanya bekerja dengan waktu yang dibatasi.


Berbeda dari Tahun Sebelumnya


Sebetulnya tidak ada tradisi khusus bagi Agung dan kawan seperantauannya dalam menyambut Ramadan di Jepang. Tapi, Ramadan tahun ini datang dibarengi pandemi. Wabah ini sangat membatasi interaksi tatap muka antar manusia. Jelas ini menjadi hal yang sangat beda dari tahun-tahun lalu.


Tidak seperti Ramadan tahun sebelumnya, menyambut bulan puasa kali ini, Agung dan teman-teman seperantauan hanya saling minta maaf melalui sosial media, karena tidak dianjurkan untuk keluar rumah. “Jadinya maaf-maafan sebatas lewat sosial media,” tulis Agung.


Selain minta maaf lewat sosial media, beberapa agenda dari tahun ke tahun rutin dilakukan oleh Agung dan kawan-kawan, kini harus batal. Salah satu agenda tersebut adalah buka bersama. Menurutnya, buka bersama menjadi ajang untuk melepas rindu akan kampung halaman. Bercerita dan bersenda gurau dengan rekan seperantauan, bagi Agung merupakan obat mujarab dari rindu yang bersarang.


“Biasanya setiap bulan puasa kami selalu nyempatin untuk buka bersama. Hitung-hitung jadi ajang pelepas rindu-lah. Tapi sepertinya tahun ini nggak bisa, karena aturan untuk di rumah aja,” ungkap Agung.


Salat tarawih di masjid, menjadi hal yang paling Agung rindukan saat bulan puasa tahun ini. Ia mengatakan, biasanya, salat tarawih diadakan di kantor kedutaan atau di Masjid Osaka. Namun, lagi-lagi karena Covid-19 yang tengah melanda, agenda salat tarawih dibatalkan.


Empat hari berpuasa, Agung mengatakan aktivitasnya hanya sebatas belajar, main handphone, tidur, dan ke tempat kerja jika ada jadwal kerja. “Sejauh ini aku cuma belajar, main hanphone, tidur, atau sesekali ke resto tempat aku kerja part time. Tapi itu juga hanya beberapa jam, karena jadwal kerjanya dipersingkat,” ujar Agung.


Di pembicaraan malam itu, Agung bercerita, biasanya salat Idul Fitri dilakukan di tempat yang luas, bersama muslim-muslim lainnya. Akan disuguhkan berbagai bentou atau makanan, mulai dari makanan Indonesia, India, dan berbagai makanan lain sebagai bentuk jamuan bagi orang-orang yang merayakan dari keduataan.

"Untuk tahun ini, belum ada kepastian lebih lanjut mengenai perayaan Idul Fitri," tutur Agung.


Diberi Tunjangan


Sebulan lebih berkegiatan di rumah saja, Agung mengaku belum menemukan kedala yang berarti. Ia sama sekali tidak kesulitan dalam mencari bahan makan, bahkan saat memasuki bulan puasa. Pabrik-pabrik di Jepang tetap memproduksi bahan makanan guna memenuhi kebutuhan pangan masyarakat Jepang, kata Agung.


Bahkan, Agung mengatakan pemerintah Jepang akan memberikan tunjangan ganti rugi untuk masyarakat karena tidak diperbolehkan bekerja selama sebulan belakangan.


“Tiap orang Jepang dan perantau, akan diberikan uang sekitar 14 -15 juta rupiah sebagai ganti rugi karena sudah sebulan dilarang bekerja. Namun, untuk pencairan dibutuhkan dokumen-dokumen tertentu, jadi diperkirakan akan cair di pertengahan Mei atau awal Juni,” jelas Agung.


Rindu Kampung Halaman


Walaupun tidak ada kendala yang berarti, Agung mengaku tetap merindukan Susana Ramadhan di kampung halaman. Agung bercerita, ia teramat rindu berbuka puasa dengan keluarga. Ia rindu ngabuburit bersama teman sejawat di kampung halaman. Dan juga rindu mendengarkan suara adzan. "Di Osaka sangat jarang mendengar suara adzan," kata dia.


“Tak ada tempat yang paling nyaman selain rumah, dan nggak ada orang yang lebih aku rindukan selain keluarga. Aku rindu puasa di rumah,” ujar Agung menutup perbincangan malam itu.


Comments


Post: Blog2_Post

©2021 by Muthyarana Darosha. Proudly created with Wix.com

bottom of page