top of page

Segudang Semangat untuk Kuliah Online

  • Writer: Muthyarana Darosha
    Muthyarana Darosha
  • May 6, 2021
  • 3 min read


Tak dapat dipungkiri, kian merebaknya corona mampu mengubah berbagai pola dan aspek dalam kehidupan. Tak terkecuali dalam dunia pendidikan. Kebijakan belajar dari rumah, membuat berbagai sekolah dan universitas menerapkan sistem pembelajaran secara online.


Suci Islami, mahasiswi asal Sumatera Barat, seharusnya sekarang tengah berada di Jatinangor, Kabupaten Sumedang, untuk melangsungkan kegiatan kuliah semester empatnya di Universitas Padjadjaran (Unpad). Namun, perkuliahan tersebut tidak berjalan dengan normal seperti biasanya. Unpad mengalihkan sistem pembelajaran menjadi perkuliahan secara daring atau online. Sudah hampir sebulan ia melakukan kegiatan perkuliahan jarak jauh ini dilaksanakan.


Per tanggal 18 Maret 2020, melalui surat edaran rektor, Unpad sudah menerapkan metode perkuliahan online. Pengalihan metode perkuliahan ini diterapkan oleh Unpad sejalan dengan peraturan pemerintah untuk tetap di rumah saja, guna menekan penyebaran virus corona.


Susah Sinyal


Bagi sebagian mahasiswa, belajar dari rumah merupakan hal yang menyenangkan, karena tidak perlu tatap muka untuk melakukan perkuliahan di kampus. Berbeda dengan Suci, ternyata sinyal internet di rumahnya yang terletak di daerah Pancung Taba, Kecamatan Bayang Utara, Pesisir Selatan,tidak mumpuni untuk melakukan pembelajaran secara jarak jauh. Sedangkan perkuliahan berbasis panggilan video menjadi pilihan utama dalam kelangsungan kuliahnya untuk saat ini.


“Jangankan internet melakukan panggilan video, untuk menelpon dan SMS saja susah,” terang pesan Suci, pada Minggu (14/4/2020).


Meskipun begitu, hal tersebut tidak mengalahkan semangat Suci untuk tetap mengikuti pembelajaran secara online. Suci memilih untuk menyewa sebuah kamar di rumah temannya, di daerah Sago, Kecamatan IV Jurai, Pesisir Selatan,yang berjarak kurang lebih dua jam perjalanan dari rumahnya. Hal ini ia lakukan tak lain dan tak bukan agar kegiatan kuliahnya tetap terlaksana.


“Akhirnya saya memutuskan untuk menyewa sebuah kamar di rumah teman saya, agar tetap bisa kuliah,” ungkap Suci.


Menurutnya, kendala sinyal bukanlah hal yang berarti. Mengingat, memang sudah kewajibannya sebagai seorang mahasiswa untuk belajar. Namun, ia sangat menyayangkan beberapa metode dalam kuliah online ini masih kurang efektif. Seperti, durasi pembelajaran yang terbatas. Aplikasi yang digunakan sebagai sarana untuk kuliah dari rumah ternyata memiliki limit waktu maksimal dalam melakukan panggilan video.


“Beberapa mata kuliah itu metodenya menggunakan panggilan video. Sayangnya, aplikasi yang digunakan membatasi durasi dalam melakukan panggilan video tersebut. Jadinya materi yang disampaikan terkadang terpotong dan tidak selengkap saat kuliah offline, atau tatap muka,” kata Suci dalam pesan suaranya.


Serupa dengan kasus Suci, Dea Febriva, seorang mahasiswa Universitas Indonesia (UI) sekarang juga tengah mengikuti Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) dari kampung halamannya. Sudah hampir sebulan juga Dea mengikuti PJJ di kediamannya, di daerah Bayang, Sumatera Barat. Kendala susah sinyal juga dialami Dea. Beruntung, Dea memiliki toko yang terletak tidak jauh dari rumahnya, dan terjangkau oleh jaringan.


“Kalau di rumah nggak ada sinyal. Tapi, untungnya di toko-ku ada jaringannya. Jadi setiap ada jadwal kuliah online ke toko dulu,” tutur Dea saat dihubungi via telepon.


Lebih Fokus


Sependapat dengan Suci, Dea mengaku kendala susah sinyal bukan halangan untuk tetap mengikuti perkuliahan online. Malahan, Dea mengatakan bahwa kuliah online menurutnya lebih efektif.


Dea bercerita, dengan kuliah online, ia bisa mendengarkan materi yang dijelaskan oleh dosen dengan fokus. Hal ini sangat berbeda dengan kuliah tatap muka. Menurutnya, kuliah tatap muka memiliki banyak potensi yang bisa mendistraksi kefokusan mahasiswa.


“Saya dapat mendengarkan materinya secara fokus dan lebih jelas melalui headset. Kalau di kelas tatap muka ada banyak hal yang berpotensi mengganggu fokus,” ujarnya.


Pembagian materi atau modul belajar dari dosen pengampu menurutnya juga menjadi kunci dari pembelajaran online ini. Namun, untuk hal ini perlu ada kesadaran pribadi dari mahasiswa itu sendiri. Ini juga tergantung pada mau atau tidaknya mereka untuk mempelajari dan mengeksplorasi materi yang sudah dibagikan.


“Materi yang diberikan oleh dosen biasanya saya pelajari dan dicatat ulang, ini menurut saya sangat efektif. Namun, ini perlu kesadaran dari individunya dan ini juga tergantung dari gaya belajar masing-masing,” ungkap Dea.


Dea tidak menyangkal, bahwa tugas yang diberikan bertambah dua kali lipat dibandingkan perkuliahan biasanya. Namun, ia berpendapat, pemberian tugas ini sangat ampuh agar mahasiswa tetap di rumah. Walaupun banyak tugas, Dea mengaku tetap senang mengikuti kuliah online.


“Walaupun tugasnya dua kali lipat, tapi saya senang mengerjakanannya, Senggaknya dengan pemberian tugas mahasiswa tidak keluyuran, tetap di rumah,”


Dea berkata, sudah seharusnya mahasiswa dapat beradaptasi dan memaklumi kondisi yang ada. Belajar di rumah dengan sungguh-sungguh adalah salah satu bentuk kontribusi mahasiswa dalam memerangi corona. Jika dokter, perawat, tenaga medis, dan orang-orang dengan pekerjaan yang tidak bisa dilakukan dari rumah diluar sana berjibaku melawan corona, maka sesuai fungsinya, tugas mahasiswa adalah belajar dengan sungguh-sungguh di rumah.


“Setidaknya, dengan tetap di rumah, kita dapat meminimalisir penyebaran virus corona,” tambah Dea.


Hal ini dibenarkan oleh Lisnawati, seorang tenaga pendidik di Kabupaten Pesisir Selatan. Ia berpendapat, tentunya program kuliah dan sekolah dari rumah ini mempengaruhi penyebaran virus corona.


“Tentunya dapat mengurangi penyebaran virus corona. Melalui metode belajar dari rumah atau online interaksi secara langsung dapat dikurangi, dibandingkan dengan belajar tatap muka,” ujarnya melalui pesan suara, pada Kamis malam (23/4).



Comments


Post: Blog2_Post

©2021 by Muthyarana Darosha. Proudly created with Wix.com

bottom of page